Fenomena menggunakan ‘Soft Lense’
Berawal dari kacamata, ide dasar pembuatan Softlens sebenarnya sudah
dikenal mulai dari tahun 1508 oleh Leonardo Da Vinci. Ide tersebut mulai
diteliti dan di kembangkan. Namun, ada
versi lain yang mengakatakan bahwa Rene Descartes merupakan penemu ide
softlens yang pertama.Pada tahun 1636, dia membuat Hydriascope yaitu kaca
berisi air yang ditempatkan pada kornea mata untuk membantu penglihatan. Hydriascope
inilah yang diklaim sebagai ide pertama yang menjadi prinsip pembuatan kacamata
dan softlens.
Seiring berkembangnya jaman, cikal bakal softlense ditemukan. Softlens atau
Lensa Kontak pertama kali sukses dibuat oleh seorang fisiologi bernama Adolf Gaston
Eugen Fick pada tahun 1888, yang terbuat dari bahan Glass-Blown.
Adolf melakukan berbagai percobaan dan riset mulai dari bahan yang aman untuk
mata, warna, ketebalan dan modelnya. Adolf melakukan percobaan pertamanya
kepada seekor kelinci. Setelah melakukan
berbagai percobaan, Adolf melakukan percobaan menggunakan softlense tersebut
kepada mata manusia(dirinya sendiri).
Pada tahun 1949, teknologi Softlens mendapatkan titik terang dengan adanya penemuan material sintetik baru yaitu, Polymethylmethylpropenoate (PMMA). Bahan ini membuat softlens lebih bersahabat dengan mata manusia karena dinilai lebih ringan. Penemuan ini membuat penjualan lensa kontak pada tahun itu membooming mencapai 200 ribu pasang terjual.
Barulah pada tahun 1960-an diluncurkan produk Softlens berbahan Hydrogel.
Sebagai buktinya, pada tahun 1971, bahan Hydrogel merupakan bahan dasar
pembuat softlens pertama yang disetujui oleh Food & Drug Administration
(FDA) dan hingga kini bahan tersebut terus dikembangan sebagai bahan dasar
softlens.
Setelah memboomingnya softlense di seluruh kalangan. Banyak sekali para pengguna kacamata yang menggunakan softlense karena dianggap lebih praktis dan mudah digunakan. Baik di Indonesia, maupun di luar negeri.
Namun, tidak
sedikit pula orang yang tidak memiliki masalah penglihatan (misalnya, mata
minus) menggunakan softlense hanya untuk memperindah matanya. Banyak
dari mereka yang menggunakan softlens karena ingin memiliki warna mata yang
unik dan berbeda. Ada pula yang beranggapan bahwa jika tidak menggunakan
softlense pada saat beraktifitas, mereka merasa tidak percaya diri dengan
penampilannya, padahal mereka sama sekali tidak membutuhkan softlense sebagai
alat bantu penglihatan matanya.
Dengan
maraknya penggunaan softlense di berbagai kalangan, mulai dari yang
membutuhkannya sebagai alat bantu penglihatan maupun yang menggunakannya
sebagai trend fashion karena mudah ditemukan, memiliki berbagai variasi
warna, model dan juga harga yang tidak terlalu mahal, banyak pula penjual nakal
yang memanfaatkan trend menggunakan softlense sebagai peluang untuk
mendapatkan keuntungan lebih dengan cara memproduksi softlense tiruan atau
palsu. Cara tersebut jelas dapat membahayakan kondisi mata para pengguna
softlense.
Para
pengguna softlense harus berhati-hati dalam memilih softlense dan harus bisa
membedakan mana softlense yang asli dan mana softlens yang tiruan.
Belilah
softlense di tempat yang terpercaya seperti di Optik-optik yang sudah
terpercaya. Apabila membeli softlense secara online, pengguna harus
dengan teliti dalam melihat kondisi softlense yang akan dibeli.
Banyak
sekali kasus yang menjelaskan bahwa pemakaian softlense yang salah dapat
merusak mata. Tidak sedikit pula kasus yang menjelaskan keteledoran seorang
pengguna softlense yang tidak memperhatikan kebersihan sehingga menyebabkan
mata ditumbuhi oleh binatang (cacing) yang mengelilingi kornea mata.
Kejadian ini
memang belum terjadi pada masyarakat Indonesia, namun tidak ada salahnya jika
kita lebih berhati-hati dalam melakukan apapun.
Apabila kita
tahu bahwa kita adalah orang yang malas dan teledor, lebih baik di sarankan
menggunakan kacamata daripada softlense. Karena, apabila kita lupa melepaskan
softlense tersebut dari mata kita saat kita tertidur, jelas akan berbahaya bagi
mata kita.
Para
pengguna softlense juga harus memperhatikan keadaan softlense mulai dari
kondisinya, apakah softlense tersebut masih layak pakai? Apakah softlense
tersebut kering? Apakah softlense tersebut sudah expired?
Kesehatan
adalah hal termahal yang sulit kita miliki. Kita harus menjaga diri kita dengan
baik agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Apabila mata
kita mengalami gangguan seperti rabun jauh(minus), lebih dianjurkan menggunakan
kacamata. Meski terkesan tidak praktis, menggunakan kacamata jauh lebih aman
daripada menggunakan softlense.
Dan jika
mata kita sehat (tidak mengalami gangguna penglihatan) JANGAN menggunakan
softlense demi menjaga kesehatan mata itu sendiri.
Sekian
artikel yang saya buat tentang Fenomena Menggunakan ‘Softlens’. Semoga artikel
ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
Artikel by,
Ferradwitaniary Joana M. N.
1PA03
12515640



