Jam

Rabu, 14 Oktober 2015

SOFTLENS



Fenomena  menggunakan ‘Soft Lense’

Berawal dari kacamata, ide dasar pembuatan Softlens sebenarnya sudah dikenal mulai dari tahun 1508 oleh Leonardo Da Vinci. Ide tersebut mulai diteliti dan di kembangkan.  Namun, ada versi lain yang mengakatakan bahwa Rene Descartes merupakan penemu ide softlens yang pertama.Pada tahun 1636, dia membuat Hydriascope yaitu kaca berisi air yang ditempatkan pada kornea mata untuk membantu penglihatan. Hydriascope inilah yang diklaim sebagai ide pertama yang menjadi prinsip pembuatan kacamata dan softlens.
Seiring berkembangnya jaman, cikal bakal softlense ditemukan. Softlens atau Lensa Kontak pertama kali sukses dibuat oleh seorang fisiologi bernama Adolf Gaston Eugen Fick pada tahun 1888, yang terbuat dari bahan Glass-Blown. Adolf melakukan berbagai percobaan dan riset mulai dari bahan yang aman untuk mata, warna, ketebalan dan modelnya. Adolf melakukan percobaan pertamanya kepada seekor kelinci.  Setelah melakukan berbagai percobaan, Adolf melakukan percobaan menggunakan softlense tersebut kepada mata manusia(dirinya sendiri).

Pada tahun 1949, teknologi Softlens mendapatkan titik terang dengan adanya penemuan material sintetik baru yaitu, Polymethylmethylpropenoate (PMMA). Bahan ini membuat softlens lebih bersahabat dengan mata manusia karena dinilai lebih ringan. Penemuan ini membuat penjualan lensa kontak pada tahun itu membooming mencapai 200 ribu pasang terjual.
Barulah pada tahun 1960-an diluncurkan produk Softlens berbahan Hydrogel. Sebagai buktinya, pada tahun 1971, bahan Hydrogel merupakan bahan dasar pembuat softlens pertama yang disetujui oleh Food & Drug Administration (FDA) dan hingga kini bahan tersebut terus dikembangan sebagai bahan dasar softlens.

Setelah memboomingnya softlense di seluruh kalangan. Banyak sekali para pengguna kacamata yang menggunakan softlense karena dianggap lebih praktis dan mudah digunakan. Baik di Indonesia, maupun di luar negeri.

Namun, tidak sedikit pula orang yang tidak memiliki masalah penglihatan (misalnya, mata minus) menggunakan softlense hanya untuk memperindah matanya. Banyak dari mereka yang menggunakan softlens karena ingin memiliki warna mata yang unik dan berbeda. Ada pula yang beranggapan bahwa jika tidak menggunakan softlense pada saat beraktifitas, mereka merasa tidak percaya diri dengan penampilannya, padahal mereka sama sekali tidak membutuhkan softlense sebagai alat bantu penglihatan matanya.

Dengan maraknya penggunaan softlense di berbagai kalangan, mulai dari yang membutuhkannya sebagai alat bantu penglihatan maupun yang menggunakannya sebagai trend fashion karena mudah ditemukan, memiliki berbagai variasi warna, model dan juga harga yang tidak terlalu mahal, banyak pula penjual nakal yang memanfaatkan trend menggunakan softlense sebagai peluang untuk mendapatkan keuntungan lebih dengan cara memproduksi softlense tiruan atau palsu. Cara tersebut jelas dapat membahayakan kondisi mata para pengguna softlense.

Para pengguna softlense harus berhati-hati dalam memilih softlense dan harus bisa membedakan mana softlense yang asli dan mana softlens yang tiruan.
Belilah softlense di tempat yang terpercaya seperti di Optik-optik yang sudah terpercaya. Apabila membeli softlense secara online, pengguna harus dengan teliti dalam melihat kondisi softlense yang akan dibeli.

Banyak sekali kasus yang menjelaskan bahwa pemakaian softlense yang salah dapat merusak mata. Tidak sedikit pula kasus yang menjelaskan keteledoran seorang pengguna softlense yang tidak memperhatikan kebersihan sehingga menyebabkan mata ditumbuhi oleh binatang (cacing) yang mengelilingi kornea mata.

Kejadian ini memang belum terjadi pada masyarakat Indonesia, namun tidak ada salahnya jika kita lebih berhati-hati dalam melakukan apapun.
Apabila kita tahu bahwa kita adalah orang yang malas dan teledor, lebih baik di sarankan menggunakan kacamata daripada softlense. Karena, apabila kita lupa melepaskan softlense tersebut dari mata kita saat kita tertidur, jelas akan berbahaya bagi mata kita.

Para pengguna softlense juga harus memperhatikan keadaan softlense mulai dari kondisinya, apakah softlense tersebut masih layak pakai? Apakah softlense tersebut kering? Apakah softlense tersebut sudah expired?

Kesehatan adalah hal termahal yang sulit kita miliki. Kita harus menjaga diri kita dengan baik agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Apabila mata kita mengalami gangguan seperti rabun jauh(minus), lebih dianjurkan menggunakan kacamata. Meski terkesan tidak praktis, menggunakan kacamata jauh lebih aman daripada menggunakan softlense.
Dan jika mata kita sehat (tidak mengalami gangguna penglihatan) JANGAN menggunakan softlense demi menjaga kesehatan mata itu sendiri.


Sekian artikel yang saya buat tentang Fenomena Menggunakan ‘Softlens’. Semoga artikel ini dapat bermanfaat bagi kita semua.






Artikel by,
Ferradwitaniary Joana M. N.
1PA03
12515640

Kebudayaan Batak Mandailing



Kebudayaan Batak Mandailing

Suku Batak Mandailing adalah salah satu suku dari sekian banyak Rumpun Batak yang telah lama hidup dalam suatu komunitas di kabupaten Mandailing-Natal, penyebaran juga terdapat di kabupaten Padang Lawas, kabupaten Padang Lawas Utara, dan sebagian kabupaten Tapanuli Selatan yang berada di provinsi Sumatera Utara. Orang Mandailing juga menyebar hingga ke wilayah provinsi Sumatra Barat, seperti di kabupaten Pasaman dan kabupaten Pasaman Barat. Maka dari itu suku batak mandailing banyak pula yang menggunakan bahasa Minang.
Banyak yang mengatakan bahwa suku Mandailing bukanlah salah satu dari suku batak. Mungkin, karena bahasa dan lokasi yang mereka tempati menyebar keluar Sumatra Utara sehingga sedikit dari suku Mandailing yang menetap di tempat lain. Bahasa Mandailing sendiri sangat berkerabat dengan bahasa Batak Angkola dan Batak Toba. Dilihat dari tradisi budaya, adat dan bahasa terdapat keterkaitan erat di masa lalu antara suku Batak Mandailing dengan suku Batak Angkola, Toba dan Padang Lawas.
Menurut salah satu versi dikatakan bahwa kata "Mandailing" berasal dari kata "Mandahiling", yang berakar dari "Mandala" dan "Holing", yang diduga berawal dari suatu nama daerah di bawah kekuasaan sebuah kerajaan, yaitu Kerajaan Kalingga. Kerajaan Kalingga adalah sebuah kerajaan dari India yang pernah berdiri di wilayah ini, dan membentuk koloni sejak abad 12 dan diduga terjadi perkawinan dengan penduduk asli "batak" setempat, yang menurut perkiraan wilayah mereka berada di antara Portibi hingga Pidoli.
Pemberian marga
Suku Mandailing sendiri menganut paham kekerabatan patrilineal, tapi akhir-akhir ini ada yang menerapkan sistem matrilineal. Di Mandailing terdapat marga-marga, seperti: Lubis, Nasution, Harahap, Pulungan, Batubara, Parinduri, Lintang, Hasibuan, Rambe, Dalimunthe, Rangkuti, Tanjung, Mardia, Daulay, Matondang, Hutasuhut dan lain-lain.
Marga-marga yang terdapat di Tanah Mandailing Godang, banyak memiliki pertalian dengan marga-marga dari Batak Utara (Batak Angkola dan Batak Toba). Tapi karena telah terpisah sejak berabad-abad, dan banyak terjadi missing link, maka marga-marga Mandailing saat ini telah berkembang menjadi beberapa aliran marga tersendiri
Sekarang ini sangat sering kita lihat menyematkan marga pada seseorang pada yang bukan batak. Ada yang beralasan, itu adalah sebuah bentuk penghargaan. Tapi aku lebih melihatnya dari sisi lain. Kalau bukan pejabat negara, petinggi partai, konglomerat, perwira militer, pejabat dari negara lain, pasti dia seorang yang spesial. Ada sesuatu yang akan diperoleh dari pemargaan tersebut. Mungkin dukungan suara, atau hal lainya. Seperti papiku, dia mendapatkan marga batak setelah sekian lama menikah dengan mamiku(orang batak), kurang lebih sekitar 19 tahun sejak mereka menikah.
Banyak yang mengatakan tentang ‘Pembelian Marga” . Marga orang batak itu tidak dapat dibeli. Jika seseorang yang bukan orang batak, tapi menikahi perempuan batak dan pernikahan tersebut dilaksanakan menggunakan adat batak, secara otomatis laki – laki tersebut menjadi orang batak dan tentunya mendapatkan marga.

Penduduk suku Batak Mandailing mayoritas adalah beragama Islam.  Berbeda dengan orang Batak Toba yang beragama Kristen. Tapi kedua suku bangsa ini berawal dari sejarah asal usul yang sama.
Banyak persamaan dalam kebiasaan orang Batak Mandailing dengan kebiasaan orang Batak Utara (Toba), misalnya:
  • ketika menyambut pengantin di rumah pengantin laki-laki. Masyarakat Mandailing selalu menyambutnya dengan ucapan horas...horas...horas
  • ketika bayi lahir, biasanya akan dibawa keluar rumah (dipatutoru), biasanya bakar kemenyan di luar rumah, agar bayi yang telah terlahir tidak mendapat gangguan roh halus.
  • adanya Gordang yang hampir bersamaan. (Gordang sambilan di tanah Mandailing Godang)
  • banyaknya persamaan nama gunung, nama desa dan nama sungai di tanah Batak Mandailing dan Batak Toba.
  • adanya acara mangupa-upa bila ada pesta perkawinan di tanah Mandailing
  • adanya tarian Tor-tor
  • adanya cara-cara menyiram sesuatu yang baru kita beli. Biasa diberi nama ipangir, agar terlepas dari marabahaya
  • adanya Ulos
  • adanya hata-hata yang bersamaan cara merangkai kalimatnya bila ada pesta ataupun pertemuan adat.
  • adanya istilah-istilah dalam hubungan kefamilian seperti anak boru, kahanggi, mora, harajaan, ula-ula dan lain-lain.
  • adanya tarombo (silsilah) yang membuktikan adanya hubungan urutan marga.






Artikel by,
Ferradwitaniary Joana M. N.
1PA03
12515640