Jam

Rabu, 14 Oktober 2015

Kebudayaan Batak Mandailing



Kebudayaan Batak Mandailing

Suku Batak Mandailing adalah salah satu suku dari sekian banyak Rumpun Batak yang telah lama hidup dalam suatu komunitas di kabupaten Mandailing-Natal, penyebaran juga terdapat di kabupaten Padang Lawas, kabupaten Padang Lawas Utara, dan sebagian kabupaten Tapanuli Selatan yang berada di provinsi Sumatera Utara. Orang Mandailing juga menyebar hingga ke wilayah provinsi Sumatra Barat, seperti di kabupaten Pasaman dan kabupaten Pasaman Barat. Maka dari itu suku batak mandailing banyak pula yang menggunakan bahasa Minang.
Banyak yang mengatakan bahwa suku Mandailing bukanlah salah satu dari suku batak. Mungkin, karena bahasa dan lokasi yang mereka tempati menyebar keluar Sumatra Utara sehingga sedikit dari suku Mandailing yang menetap di tempat lain. Bahasa Mandailing sendiri sangat berkerabat dengan bahasa Batak Angkola dan Batak Toba. Dilihat dari tradisi budaya, adat dan bahasa terdapat keterkaitan erat di masa lalu antara suku Batak Mandailing dengan suku Batak Angkola, Toba dan Padang Lawas.
Menurut salah satu versi dikatakan bahwa kata "Mandailing" berasal dari kata "Mandahiling", yang berakar dari "Mandala" dan "Holing", yang diduga berawal dari suatu nama daerah di bawah kekuasaan sebuah kerajaan, yaitu Kerajaan Kalingga. Kerajaan Kalingga adalah sebuah kerajaan dari India yang pernah berdiri di wilayah ini, dan membentuk koloni sejak abad 12 dan diduga terjadi perkawinan dengan penduduk asli "batak" setempat, yang menurut perkiraan wilayah mereka berada di antara Portibi hingga Pidoli.
Pemberian marga
Suku Mandailing sendiri menganut paham kekerabatan patrilineal, tapi akhir-akhir ini ada yang menerapkan sistem matrilineal. Di Mandailing terdapat marga-marga, seperti: Lubis, Nasution, Harahap, Pulungan, Batubara, Parinduri, Lintang, Hasibuan, Rambe, Dalimunthe, Rangkuti, Tanjung, Mardia, Daulay, Matondang, Hutasuhut dan lain-lain.
Marga-marga yang terdapat di Tanah Mandailing Godang, banyak memiliki pertalian dengan marga-marga dari Batak Utara (Batak Angkola dan Batak Toba). Tapi karena telah terpisah sejak berabad-abad, dan banyak terjadi missing link, maka marga-marga Mandailing saat ini telah berkembang menjadi beberapa aliran marga tersendiri
Sekarang ini sangat sering kita lihat menyematkan marga pada seseorang pada yang bukan batak. Ada yang beralasan, itu adalah sebuah bentuk penghargaan. Tapi aku lebih melihatnya dari sisi lain. Kalau bukan pejabat negara, petinggi partai, konglomerat, perwira militer, pejabat dari negara lain, pasti dia seorang yang spesial. Ada sesuatu yang akan diperoleh dari pemargaan tersebut. Mungkin dukungan suara, atau hal lainya. Seperti papiku, dia mendapatkan marga batak setelah sekian lama menikah dengan mamiku(orang batak), kurang lebih sekitar 19 tahun sejak mereka menikah.
Banyak yang mengatakan tentang ‘Pembelian Marga” . Marga orang batak itu tidak dapat dibeli. Jika seseorang yang bukan orang batak, tapi menikahi perempuan batak dan pernikahan tersebut dilaksanakan menggunakan adat batak, secara otomatis laki – laki tersebut menjadi orang batak dan tentunya mendapatkan marga.

Penduduk suku Batak Mandailing mayoritas adalah beragama Islam.  Berbeda dengan orang Batak Toba yang beragama Kristen. Tapi kedua suku bangsa ini berawal dari sejarah asal usul yang sama.
Banyak persamaan dalam kebiasaan orang Batak Mandailing dengan kebiasaan orang Batak Utara (Toba), misalnya:
  • ketika menyambut pengantin di rumah pengantin laki-laki. Masyarakat Mandailing selalu menyambutnya dengan ucapan horas...horas...horas
  • ketika bayi lahir, biasanya akan dibawa keluar rumah (dipatutoru), biasanya bakar kemenyan di luar rumah, agar bayi yang telah terlahir tidak mendapat gangguan roh halus.
  • adanya Gordang yang hampir bersamaan. (Gordang sambilan di tanah Mandailing Godang)
  • banyaknya persamaan nama gunung, nama desa dan nama sungai di tanah Batak Mandailing dan Batak Toba.
  • adanya acara mangupa-upa bila ada pesta perkawinan di tanah Mandailing
  • adanya tarian Tor-tor
  • adanya cara-cara menyiram sesuatu yang baru kita beli. Biasa diberi nama ipangir, agar terlepas dari marabahaya
  • adanya Ulos
  • adanya hata-hata yang bersamaan cara merangkai kalimatnya bila ada pesta ataupun pertemuan adat.
  • adanya istilah-istilah dalam hubungan kefamilian seperti anak boru, kahanggi, mora, harajaan, ula-ula dan lain-lain.
  • adanya tarombo (silsilah) yang membuktikan adanya hubungan urutan marga.






Artikel by,
Ferradwitaniary Joana M. N.
1PA03
12515640

Tidak ada komentar:

Posting Komentar